Media Sosial: Sebuah Lahan Ekspresif yang Serba Salah
Media
Sosial:
Sebuah
Lahan Ekspresif yang Serba Salah
Sejujurnya, aku
tidak terlalu tahu kemana arah media sekarang ini, khususnya sosial media,
katakanlah facebook, instagram, line,
tumblr dsb telah menjadi media-media
populer dikalangan masyarakat baik dari yang masih kecil sampai ke orangtua
sekalipun. Ada kesan bagiku bahwa mereka berlomba-lomba mengumbar diri secara
terang-terangan untuk menunjukan status sosial, level pergaulan, popularitas,
dan perang intelektual. Secara perlahan hal-hal yang bersifat pribadi dan umum
itu kian banyak dan akan menjadi sebuah kebiasaan generasi penerusnya untuk
mengumbar hal-hal yang sebetulnya tak perlu. Mereka tak tahu bahwa segala hal
yang mereka umbar –termasuk data akun miliknya- telah dipantau dan dicuri oleh
mereka-mereka para pemilik media dengan agenda khususnya. Belum lagi
pemanfaatan media untuk melakukan ujaran kebencian dan penyebaran berita hoax
yang sulit terbendung karena saking banyaknya. Tak jarang ada perselisihan
antar penghuni dunia maya tersebut yang mempermasalahkan hal kecil maupun besar
dan bahkan sampai memanjang. Banyak juga informasi tak akurat yang
disebarluaskan sehingga membuat gaduh dan bahkan memancing emosi dan keributan.
Kemudian ada kelompok media sosial yang muncul dan berperan sebagai ‘penengah’
di antara kedua kubu yang bersetetu dengan mengedepankan rasionalitas, dan
berusaha se objektif mungkin. Lalu ada kelompok yang masa bodoh dengan apa pun
itu atau tidak tertarik dengan objek-objek yang ramai diperdebatkan. Hingga
dapatku tarik kesimpulan bahwa fungsi media sekarang ini adalah: 1. Untuk mengumbar karya seni 2. Sebagai
visual diary, dan 3. Untuk dimanfaatkan oleh para pemilik kepentingan yang
ambisius.
Sehingga sulit
untuk menahan orang-orang awam yang baru memakai media sosial dikesehariannya
untuk tidak terpengaruh oleh hal-hal negatif yang ada di dalamnya.
Kemudian
media digunakan sebagai topeng-topeng manipulasi bagi anak-anak muda yang
mendamba eksistensi. Ingin diakui dan agar dapat bersaing dengan orang lain,
mereka menjadi sesuatu yang bukan dirinya sendiri. Menjadi orang lain yang
mereka inginkan, membohongi diri sendiri. Kejujuran adalah masalahnya. Tidak
banyak dari mereka yang bisa jujur dalam menilai diri sendiri, tapi giliran
menilai orang lain mereka paling lantang. Bukan cuma penampilan yang dipermak
di media sosial, otak pun tak kalah dipermak, bahkan lebih parah lagi. Mata dan
kepala mereka dicekoki ratusan bahkan
ribuan informasi tak berdasar dan tak bertanggungjawab yang jika dibiarkan
dikonsumsi lama-lama bisa merubah cara pandang mereka terhadap sesuatu. Sebagai
contoh, jika satu kelompok terus-terusan dicekoki masalah agama dan perbedaan,
maka fanatisme akan menjalar diseluruh pikirannya. Sedikit-sedikit agama,
sedikit-sedikit penistaan. Memangnya apa yang terjadi diwaktu-waktu belakang
yang nyaris dilupakan? Permasalahan dahulu tidak sesepele permasalahan sekarang
ini, walaupun perselisihin antar kubu itu telah berlangsung sejak lama, namun
dulu bisa lebih kompleks, tapi sekarang tuduhan tak berdasar pun bisa
diributkan. Barangkali ini yang disebut overdosis agama.
Maksud
saya mengatakan itu, akan lebih banyak dampak negatif dari permasalahan yang diaanggap sepele ini jika terus dibiarkan.
Anak-anak muda kita menjadi tidak produktif, mudah berdalih dan berpikir
instan, dan semua itu dimulai dari media sosial! Coba kawan-kawan bayangkan!
Media sosial yang tadinya dikira sebagai media penghubung satu sama lain untuk
berkomunikasi makin sini makin melenceng dan memuakkan. Semua tak lain karena penguasa
media benar-benar memanfaatkan penggunanya untuk mencari mangsa empuk dan
korban-korban tak bersalah yang tak paham ia bakal digiring kemana. Maka dari
itu hati-hati dan bijaklah dalam bersosial media.
Namun.. ada sisi baiknya..
Meskipun anak
muda berpikir kritis dan kadang bersaing tajam, semuanya hanya dari sisi
perbedaan pendapat. Setelah pertempuran argumen di media sosial habis-habisan,
anak-anak berhambur ke rutinitasnya masing-masing, dan tetap berhubungan baik
dengan sekitarnya. Namun ada juga beberapa orang yang masih tercengkak otaknya
dengan memelihara kebencian pada sesama. Telinga dan pikirannya sangat sensitif
terhadap hal-hal kecil berbau agama dan politik. Sehingga kadang-kadang materi
dan selera humor tidak lagi bisa dieksplor banyak untuk diperbincangkan,
apalagi setelah kasus Joshua dan Ge Pamungkas. Ya Allah.. besok pagi
masih adakah bahan-bahan yang bisa dihumorkan? Bahan-bahan telah digerus oleh sensitivitas
gampang tersinggungan yang makin merajalela.
Sering aku merasa
heran, kawan-kawanku banyak yang berubah menjadi pemuda-pemudi hijrah. Ehm,
alhamdulillah. Tapi masih menunjukan bahwa mereka beribadah dan ikut kajian hanya untuk dilihat dan diakui orang lain
bahwa mereka telah ‘sholeh’. Lalu ada kawanku yang barangkali pantas jika
disebut badboy karena memang tingkah
lakunya selalu bikin orangtuanya tepuk jidat, night kids kawakan, mabal,
mabuk-mabukan, tak jarang minum hari sabtu malam lalu besoknya merasa sudah
hari senin, tak pernah tekun belajar, namun mereka unggul di kelas pendidikan,
dan dengan lantang berkata bahwa ‘Agama tidak bisa diperlakukan seperti itu!
Kalau begini caranya, kita harus turun kejalanan!’ dan kemudian merasa bahwa ia telah membela
keyakinan yang ia yakini paling benar di antara yang lainnya. Aku, yang hidup
sesuai dengan tuntutan Dasa Dharma Pramuka dan Pancasila, taat pada perintah
orangtua, selalu baca buku dengan giat dan tak lupa minum susu, jarang dapat
melebihi nilai mereka, dan tak pernah sekalipun merasa bahwa aku telah berada
dijalur yang benar sehingga aku merasa aman dan bebas mencerca orang lain.
Dalam sholat kita selalu mengucapkan, ‘ihdinas siratal mustaqim’ (tunjukanlah kami jalan yang lurus)
bukankah merupakan sebuah bukti bahwa kita masih berpotensi untuk tersesat? Oleh
karena itu aku memohon kepada Allah SWT agar aku selalu dibimbing untuk berada
dijalan yang lurus. Setidaknya bagiku sendiri.
Dengan ini kutemukan paradoksku, dalam diriku
sendiri.
Komentar
Posting Komentar