Nada dan Cinta
Dan nada-nada indah itu menghantarkanku ke dalam nuansa cinta yang indah tak tertahankan rasanya, melekat, meriah, dan menghempaskan kepenatan. Sesuatu yang absurd itu membawaku pada segala hal yang menjadi serba baik. Memang tak ada yang lebih aneh dari jatuh cinta, semuanya akan terlihat serba baik. Bahkan laptopku yang selalu overheat ini sekarang terlihat seperti sebuah teknologi canggih multifungsi yang pernah kudapatkan, aku mendapatkan banyak manfaat karenanya. Lalu kelasku yang sempit dan pengap itu, seketika berubah menjadi sejuk karena kedatangan guru sekaligus wali kelas baru yang amat cantik, kami senang melihatnya.
Dari lagu cinta itu aku memahami bahwa cinta itu sangatlah indah jika kita mau memahaminya dengan tulus oleh hati kita. maka bukalah mata hatimu pada ketulusan cinta niscaya kau akan mendapatkan benihnya yang indah tak terperi. seperti seekor burung yang hanya mempunyai satu sayap. Ia takkan bisa terbang tanpa sepasang sayapnya. begitu pula dengan manusia. Doel Sumbang mengimpresentasikannya lewat sebuah lagu:
Cinta itu anugrah
Maka berbahagialah...
Sebab kita sengsara
Bila tak punya cinta...
Aku pernah jatuh cinta pada seseorang. Pada waktu itu ketika masa-masa puber dan hormon yang meningkat serta rasa keingintahuan yang sangat besar membawaku terhanyut dalam cinta, merasuki dan meracuni akal dan pikiranku sehingga aku paham apapun soal cinta dan bertingkah laku seperti orang yang kurang sehat. Kemanapun dan pada siapapun aku selalu tersenyum. Hal absurd itu membuatku jadi murah senyum. Sampai orang-orang memanggilku si Mr.Smile no.1 yang senang menampakkan giginya.
Rasa suka ini pertama kali datang ketika kelasku kedatangan seorang murid baru yang pindah dari kota tetangga yaitu garut. Ketika aku melihat wajahnya entah mengapa ada sesuatu yang bergejolak dalam hatiku. Tidak seperti biasanya. Normalnya aku melihat teman-teman perempuan sebagai teman. Tapi tidak kali ini. Aku merasakan ada suatu hal yang meluap-luap dari lubuk hatiku yang telah lama tertutup. Kini terbuka kembali.
Melihat wajahnya itu seperti aku merasakan kebahagiaan yang tak dapat kugambarkan rasanya. Melihatnya adalah seperti aku melihat kembang api. Melihatnya adalah seperti aku baru bisa menaiki sepeda. Melihatnya membuatku menulis puisi. Cintanya adalah sastra.
Aku tak tahu apa yang kurasakan saat ini
yang kutahu hanyalah kelebat bayangmu menggangguku
bila tak kupalingkan wajahku, mungkin saat ini kau telah rajai sukmaku
Aku mungkin bisa lupa, atau kau bisa jadi alpa
Namun, bayangmu terlanjur terpatri pekat
Merasuki otak dan mengusik mimpiku
Bila ini yang dinamakan cinta, bolehkah aku menyimpannya?
Bila ini rasa, izinkanlah kau menjadi pencapaiannya..
Bila aku menjadi amnesia,
bila aku harus melupakan semuanya,
Tolong simpan senyum itu...
Komentar
Posting Komentar