MENCARI MAKNA: BINGUNG YANG DIPELIHARA?
MENCARI MAKNA:
BINGUNG YANG DIPELIHARA?
BINGUNG YANG DIPELIHARA?
Jum’at, 10 Maret 2017
Ada pepatah bijak berbunyi: “Bila
engkau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan, tapi dua
melenyapkan.” Sekalipun ganjil terdengar, tapi itu penting. Pepatah bukan
sekedar pepatah. Dibutuhkan pengalaman pahit untuk memformulasikannya. Dibutuhkan
orang yang setengah mati berakit-rakit ke hulu agar tau hikmatnya berenang
sampai ketepian. Dibutuhkan orang yang tersungkur jatuh dan harus tertimpa
tangga. Dibutuhkan seorang pemuda yang mencari jati dirinya.
Mungkin
pengalaman-pengalaman itulah yang membuat manusia berubah, termasuk aku. Siapa
yang tahu, yang dulunya seseorang bisa begitu cerewet, sekarang mendadak
menjadi pendiam. Begitupun sebaliknya. Mungkin, orang-orang itu belajar
bagaimana cara bersikap dari waktu ke waktu tentang bagaimana menjadi orang
yang baik dan bisa diterima orang banyak. Sebab, apa gunanya bila kita hidup
tanpa bermanfaat dengan sekitar kita bahkan dengan diri sendiri. Dan aku salah
satu yang termasuk dalam perubahan-perubahan itu. Mencari diri sendiri dengan menjadi
orang lain.
Mencari
makna
Lebih dari 10 tahun yang lalu aku senang membaca buku. Buku-buku di perpustakaan kecil ayahku membuatku mabuk kata-kata. Setiap harinya aku pasti membaca. Buku apapun, yang dalam satu pandangan mata buku itu terpampang, kuambil, lalu kubaca. Aku tak pernah puas membaca. Bahkan, belum selesai aku membaca satu buku, kubaca buku yang lain. Sudah banyak buku yang kubeli pun tak kunjung kubaca. Kadang-kadang kepuasan terletak setelah aku membeli buku, bukan setelah membacanya.
Lebih dari 10 tahun yang lalu aku senang membaca buku. Buku-buku di perpustakaan kecil ayahku membuatku mabuk kata-kata. Setiap harinya aku pasti membaca. Buku apapun, yang dalam satu pandangan mata buku itu terpampang, kuambil, lalu kubaca. Aku tak pernah puas membaca. Bahkan, belum selesai aku membaca satu buku, kubaca buku yang lain. Sudah banyak buku yang kubeli pun tak kunjung kubaca. Kadang-kadang kepuasan terletak setelah aku membeli buku, bukan setelah membacanya.
Tetapi,
banyaknya buku yang kubaca tak kunjung membuatku serba tahu. Atau setidaknya
lebih banyak membuatku bingung akan pemikiranku yang tidak terfokus kemana-mana
dan cenderung loncat-loncat. Makin banyak aku membaca makin membuatku senang
juga makin bingung. Buku mana yang sebenarnya harus aku ikuti? Karena setelah
selesai membaca suatu buku, novel misalnya, aku serasa ikut larut dalam alur
cerita di dalamnya. Seminggu setelah membaca biasanya aku mengikuti apapun yang
disebut ‘keren’ yang terdapat di dalam buku itu. Aku membaca Edensor-nya Andrea
Hirata, aku ingin ke Eropa. Aku membaca Filosofi Kopi-nya Dee, aku ingin punya
kedai kopi. Aku membaca novel Harry Potter lalu tiba-tiba aku ingin jadi
penyihir. Aku membaca semua bukunya Raditya Dika aku malah ingin jadi orang
biasa-biasa saja.
Mengapa buku bisa membuat orang
cepat berubah? Atau mungkin ini alasannya makanya ada yang pernah berkata,
“Kalau
dalam satu tahun kau membaca 9 buku yang baru, maka lihat perubahan yang akan kau rasakan.”
Memang
aku berubah, tapi pemikiriannya kemana-mana.
Sedangkan
dalam satu buku yang ingin kubeli tapi tak kunjung terbeli –Sepotong Senja
untuk Pacarku karya Seno Gumira Ajidarma, mengatakan:
“Sudah
terlalu banyak kata-kata di dunia ini, dan kata-kata, ternyata, tidak merubah apa-apa. Lagipula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang
sibuk berkata-kata tanpa
pernah mendengar kata-kata orang lain.”
Lantas apa yang berusaha didapatkan
dari membaca buku dari orang-orang atau bahkan diriku sendiri, yang kadang
merasa, semuanya malah membuatku bingung? Apa karena orang bilang nerd itu keren? Tidak juga.
Kadang-kadang, orang-orang yang mengaku suka membaca buku tidak lebih banyak
membaca dari mereka yang tidak banyak bicara. Pengakuan mereka tidak
membuktikan apapun. Sedangkan aku? Banyak yang bertanya, “kamu suka baca
buku?”, “ya” jawabku. Mereka menyebutku menyukai sastra, nerd, atau apapun itu.
Tapi tidak berarti aku membaca lebih dari mereka yang bertanya, siapa yang
tahu.
Aku
berpikir, kalau saja aku seperti orang lain yang ketika selesai membaca, tetap
menjadi orang normal. Seperti tidak terjadi apa-apa, mungkin hanya sebagian
kecil ia serap hal-hal yang pentingnya saja. Sedangkan aku ini, seperti yang
telah terjadi dari waktu ke waktu, menjadi orang yang berbeda setelah membaca
buku yang berbeda. Apa itu ciri keberhasilan seorang penulis yang berusaha
mengubah pandangan pembacanya dan aku yang terlalu labil menjadi manusia, atau
contoh dari orang-orang yang tak punya pendirian dengan menelan apapun yang ia
dapat mentah-mentah. Masih belum dapat kutemukan jawabannya.
Aku yakin, mereka yang menulis
adalah mereka yang sudah lebih dulu merasakan derasnya arus kehidupan, pahit.
Dan menuangkannya dalam sebuah tulisan adalah sebuah kebanggaan, sebuah
pencapaian diri. Mereka bisa menjelaskan secara rinci kejadian-kejadian yang
mereka alami dan menginspirasi banyak orang. Andrea Hirata –yang membuatku ingin
sekolah di Eropa- misalnya, ia menulis sesuatu yang mungkin tidak pernah dibaca
orang sebelumnya. Ia menawarkan sudut-sudut pandang baru yang menggugah. Sejak
ia kecil, sampai saat ia menulis dan impiannya untuk tinggal dipegunungan Tibet,
dituangkannya dengan rapi. Semua yang
ditulis itu ada, tapi tidak semua yang ada itu, ditulis. Katanya yang
selalu mengingakanku ketika aku mulai menulis. Tapi sebagian orang malah
berkata, tulislah semua yang kau pikirkan.
Bingung, kan?
Barangkali, segala hal tentang buku
adalah salah satu proses pencarian jati diriku. Dari buku-buku itu dapat
kutemukan mozaik-mozaik atau kepingan-kepingan yang memajukan pemikiran dan
mendewasakan tindakan. Darinya aku belajar memahami sesuatu dengan berbagai
sudut pandang sehingga terhindar dari egoisme. Darinya juga aku menyadari bahwa
carilah sesuatu langsung dari sumbernya, bukan dari ‘kata orang’ atau dari buku
yang menyelewengkan kebenarannya. Buku dapat menjadi pondasi peradaban dan
pedoman seseorang. Tetapi juga harus dipahami bahwa mencari ilmu tanpa guru
adalah hampa dan kadang membuat kita tersesat. Guru nyata bagiku adalah ayahku.
Selain ia menyediakan banyak buku, ia juga membiarkanku menyelami kebingungan
yang dalam dan membiarkanku terlarut di dalamnya sehingga dengannya aku mencari
tahu dan bertanya. Saat tanya-jawab inilah hal yang paling aku suka dari
hubungan seorang guru-murid terlebih seorang ayah pada anaknya. Karena kutahu
penjelasan-penjelasannya tidak menyesatkan dan mempunyai dasar yang kuat
sehingga sulit dibantah.
Hingga
saat aku mempunyai kesempatan untuk bisa kuliah adalah sesuatu yang sangat
kusyukuri, mempunyai bekal yang bisa dikatakan cukup, aku berangkat dengan
beribu pertanyaan yang kusimpan diam-diam dengan memperhatikan suasana
kehidupan di kampus. Mahasiswa, dosen-dosen. Semuanya memberikan pandangan
baru. Dan ketika pulang aku mempunyai kesimpulan-kesimpulan baru.
Minggu,
12 Maret 2017
Kiranya yang menarik dari sini
adalah, seorang anak muda yang berusaha mencari makna-makna kehidupan melalui buku-buku
yang dibacanya. Terlarut dalam rangkaian kata-kata yang disusun sedemikian rupa
sehingga mempengaruhinya sedemikian hebat. Apa gerangan yang ia cari?
Setujukah
ia dengan pernyataan Muhammad Hatta yang bersedia dipenjara asalkan dengan
buku, karena dengan buku, ia bebas. Tidak sadarkah ia sudah lebih dulu
dipenjara dalam ribuan lembar halaman buku yang membuatnya lupa makan, bahkan
lupa akan dirinya sendiri.
Atau
ia juga terpengaruh seorang W.S Rendra yang pernah mengatakan, “Apalah artinya kesenian, bila terpisah dari
derita lingkungan. Apalah artinya berpikir bila terpisah dari masalah
kehidupan.”
Mungkin ia ingin memandang dunia
dengan kacamata keilmuan yang didapatkannya, dan menyatukannya dengan
lingkungan dan segala permasalahan kehidupan, sehingga ia dibuat kebingungan
bahkan kelimpungan akibat perbuatannya sendiri ketika ia benar-benar merasakan
realita kehidupan yang terang-terangan menyudutkannya.
Komentar
Posting Komentar