MENDADAK PAKAR EKONOMI

Menaiknya nilai tukar rupiah terhadap dollar
menimbulkan berbagai macam reaksi dari masyarakat luas, ada yang khawatir, ada
yang biasa-biasa saja, ada yang mengaitkannya dengan pemilu, ada yang
menganalisis bahwa itu sebagian dari proses panjang, ada yang bertindak, dan
lain sebagainya.
Bagiku, rupiah tetap menjadi mata uang utama
di Indonesia, aku masih jajan dan bertransaksi jual beli menggunakan rupiah,
karena dollar tak sepenuhnya berpengaruh terhadap orientasiku dalam berkehidupan,
semuanya masih mencukupi.
Di saat yang sama, banyak kawanku yang
mendadak peduli dollar dan mendadak paham ekonomi layaknya para pakar. Masuk
akal memang kalau apa yang dikhawatirkan adalah dampak perubahan harga terhadap
kebutuhan sehari-hari yang menemani kehidupan mereka. Aku pun khawatir jikalau penurunan
nilai tukar itu membuatku berada pada situasi serba sulit karena harga yang
menghimpit. Tapi, biarlah itu menjadi persoalan pemerintah yang berkapasitas
mengurus dan memperbaiki itu semua, ketimbang kita sebagai masyarakat mengeluh
dan menjelek-jelekkan pemerintah seakan-akan paham atas apa yang sebenarnya
terjadi.
Kalau mau melihat kebelakang, Indonesia pernah
mengalami krisis moneter tahun 1998 (kejatuhan Soeharto) di mana bangsa kita terguncang
oleh inflasi dan nilai rupiah yang terjun bebas, satu kondisi dimana keadaan
jauh lebih mengerikan dibandingkan sekarang.
Rupiah kita telah mengalami rentetan sejarah
panjang dari jaman setelah bangsa ini merdeka. Dari mulai devaluasi rupiah yang
menjadikan 1 US$ sama dengan Rp11.40 (sebelas rupiah) sampai dengan Desember 1965
1 US$ sama dengan Rp 35.000 (kejatuhan Soekarno). Kemudian turun lagi menjadi
Rp250,- selama 1965 hingga 1970, kemudian naik dan turun lagi dalam waktu yang
cukup lama untuk 2001 hingga 2011 senilai Rp9.900,-. Itulah sejarah dan beberapa
inflasi dari masa ke masa.
Presiden Jokowi pun berpendapat bahwa depresiasi
rupiah disebabkan faktor eksternal, seperti kenaikan suku bunga AS (Amerika
Serikat), perang dagang antar China-AS, hingga krisis ekonomi yang melanda
Turki dan Argentina, bukan kondisi perekonomian nasional, yang mana
dipermasalahkan oleh sebagian orang bahwa ini adalah faktor bertambahnya hutang
negara. Wong negara adidaya sebesar Amerika pun memiliki hutang yang jauh lebih
besar, ini malah menyalahkan dan meminta presiden turun. Memangnya gampang jadi
presiden?
“Besarnya penurunan rupiah dari awal tahun
2018 masih di bawah 10%, jadi ini tidak serta merta membuat harga barang naik,
kalau pun naik, akan bertahap.”, tutur ekonom dari Universitas Atmayaja
Jakarta, Agustinus Prasetyantoko.
Bagaimana pun, pemerintah menjamin depresiasi
rupiah ini tidak akan berujung pada krisis ekonomi seperti yang terjadi tahun
1997/1998. Alasannya, inflasi kini berada di angka 3,2%, sementara inflasi
tahun 1997 mencapai 78,2%. Selain itu, pemerintah menyebut pertumbuhan ekonomi
2018 berada di angka 5,27%, berbeda dengan tahun 1997 yang justru minus 13.34%.
Kita sudah pernah lewati level Rp9.000 hingga
Rp13.000,-. Kalaupun depresiasi, tidak akan mendadak, tidak melonjak sehingga
menimbulkan kepanikan masyarakat. Kondisi psikologis publik harus dijaga agar
tak khawatir rupiah bakal jatuh. Masyarakat dapat melakukan sumbangsih demi
menjaga nilai tukar rupiah terhadap dollar, seperti berinisiatif mengurangi penggunaan
produk luar negeri, menghindari membeli dollar. Meski beberapa upaya itu tidak
akan langsung memperkuat rupiah.
Lalu, mengapa kawan-kawanku banyak yang
mengeluhkan soal dollar ini? Setelah ditelusuri, ternyata ujungnya nyangkut diperbedaan
pilihan presiden. Orang-orang ini, jelas menjadi kubu yang kontra terhadap
pemerintahan sekarang. Diawali dari ketidaksukaan subjektif, ditambah naiknya
nilai tukar rupiah, makin jadi santapan embuk untuk berargumen terhadap lawan
bicaranya! Walaupun ada beberapa kawanku yang pro pemerintahan sekarang tetapi
juga mengkritisi naiknya nilai tukar ini. Tapi, bukankah ini persoalan rutin
yang harus dicarikan solusinya dengan tindakan?
Kebanyakan orang menjadi tidak objektif dalam
menilai sesuatu akibat fanatik subjektifitas yang berlebihan. Orang selalu
pintar mencari celah untuk mencela. Bukankah Imam Ali bin Abi Thalib a.s pernah
berkata: “Lihatlah kebaikan pada diri orang lain, dan lihatlah keburukan pada
dirimu sendiri”. Bukan sebaliknya.
Itulah yang terjadi pada bangsa kita sekarang
ini, orang sibuk bertengkar dan menghabiskan waktu tentang sesuatu yang tidak
seharusnya diributkan. Soekarno juga pernah berkata, “Bangsa ini tidak akan maju
kalau kerjamu rebut melulu.”
Sudah saatnya kita sebagai generasi muda
calon penerus bangsa menerapkan sikap berpikir kritis namun logis dan berakhlak
mulia. Carilah ilmu sebanyak-banyaknya untuk mengetahui kadar dirimu, namun
jangan tinggalkan agama. Karena ilmu tanpa agama itu buta, dan agama tanpa ilmu
itu lumpuh.
Carilah semua jalan agar kita tahu mana jalan
yang terbaik menurut pilihan dan akal sehat kita, bukan hanya mengetahui satu
jalan dan berkubang disitu mengatakan hanya jalan itu yang paling benar. Manusia
dilahirkan dengan akal dan kemampuan berpikir yang luas, maka manfaatkanlah
anugrah itu sebaik-baiknya. Bukan malah menodainya.
Jadi, lupakan sejenak tentang masalah dollar,
tidak perlu repot-repot mengurusi, biar pemerintah saja yang menanganinya. Mulai
sekarang, mari perbaiki diri demi si dia, bangsa dan negara, oke?
Sebuah tugas mata kuliah Teknik Penulisan Artikel, 2018.
Sebuah tugas mata kuliah Teknik Penulisan Artikel, 2018.
Wah.. pembahasan yang menarik :)
BalasHapusWaah makasih mas Farhan..
Hapuskayanya saya harus banyak belajar mengelola blog sama kamu nih hehe