Pendakian Gunung Prau



Hubungan apakah yang terjalin antara seseorang dengan sebuah gunung? Aku mencoba memahaminya, dan tahu bahwa jalinan itu menjangkau ruang batin yang teramat dalam. Kadang, hanya dengan membayangkan sebuah gunung, ingatan kita akan terhantar ke banyak nama dan peristiwa. Karena itu, aku langsung mengiyakan ajakan kawanku untuk mendaki gunung. Dialah yang pertama kali mengajak dan mengenalkanku pada dunia pendakian, di mana aku dibuatnya jatuh cinta dengan alam terbuka.


“Kemana?” tanyaku,

“Prau..” jawabnya singkat.

Aku tahu, selalu ada cerita menarik yang terjadi di dataran tinggi Dieng itu. Banyak pendaki yang mengagumi golden sunrisenya yang luar biasa indah. Betapa tidak, Gunung Prau adalah salah satu tempat terbaik untuk melihat sunrise di Pulau Jawa, juga kita bisa menyaksikan lima gunung  lain di puncaknya secara langsung, yaitu; Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi, Gunung Merbabu, dan Gunung Lawu. Puncak Prau juga terkenal dengan bukitnya yang berundak-rundak yang dikenal sebagai bukit Teletubbies.

Ajakan itu membawa ingatanku kembali pada sebuah pendakian Gunung Bendera, Padalarang, beberapa tahun yang lalu. Kala itu kawanku bertujuan, selain hanya mendaki, juga untuk melepas kepenatan dari rutinitas sehari-hari yang sangat mencekik. Ia bosan dengan segala kegiatan yang membelenggu pikirannya hingga sampai pada titik jenuh, yang membuat ia merasa harus sejenak menepi. Bagaimanapun, hubungan kawanku dengan pendakian gunung tak mudah dijelaskan.
Aku jadi sedikit paham, bahwa adakalanya mendaki gunung ialah bentuk pelarian dari suatu hal yang membuat kita lupa kepada diri kita sendiri. Mendaki adalah menjauh dari keramaian, dengan tujuan untuk memulihkan ingatan, dan menyegarkan pikiran.

Hari itu, dengan sengaja aku dan kawanku sampai di Puncak Prau sore hari, supaya kami dan senja sempat bercengkrama bersama tepat di bawah cakrawala.



Komentar

Postingan Populer